Pertama kali bertemu dengan buku itu hari Minggu kemarin pada saat saya pergi ke Festival buku di Gedung Wanita - Semarang. Saya mengitari setiap stan penerbit mencari buku yang menarik untuk dibaca.
Setelah berkeliling akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada buku ‘THE SOMPLAK LIFE-naskah gue masih jomblo, gue juga’ yang dicetak ditahun 2014. Saya mendapatkan buku ini dengan harga yang sangat murah yakni RP. 15.000,-.
Saya tanpa pikir panjang langsung menjatuhkan pilihan pada buku ini setelah saya selesai membaca sinopsis yang tertulis di belakang buku. Karena cerita yang begitu ‘ngena’ untuk saya.
Cerita yang menarik ditambah gaya bahasa lugas dan jalan cerita yang ringan membuat buku ini recomended untuk dibaca dikala senggang. Bagi anda booklovers penyuka genre ringan atau anda yang sedang tidak ingin membaca buku dengan tema berat buku ini tentu sangat pas.
Selain itu, di dalam buku ini juga banyak sekali quote-quote yang bisa diambil sebagai pelajaran dalam hidup khususnya bagi anda yang menggeluti dunia tulis menulis. Dan di bawah ini quote yang bisa saya rangkum dari buku ini:
- Hidup kan, nggak kayak di drama Korea favorit gue, dimana cowok sempurna selalu jatuh cinta sama cewek biasa.
- Nggak selamanya seseorang butuh kalimat hiburan. Gue kasih solusi lebih baik daripada sekadar nasihat pasaran.
- Nulis itu seperti musik, bebas, dan nggak terbatas. Keluarin saja segalanya yang ada dikepalamu. Total! Nggak usah takut sesuatu yang belum terjadi. Nggak usah membatasi kreatifitasmu sendiri. Soalnya, jadi nggak maksimal.
- Di dunia ini nggak pernah ada kebetulan. Setiap hal pasti ada alasan kenapa bisa terjadi. Orang yang percaya di dunia ini kebetulan itu ada nggak lebih dari orang yang nggak percaya takdir dan kuasa Tuhan.
- Mood itu nggak seharusnya jadi acuan utama dalam melakaukan pekerjaan apapun, naik menulis atau lain hal.
- Menulis itu bukan apa, kenapa, ataupun siapa, tapi masalah komitmen diri sendiri akan apa yang ingin diraih.
- Banyak orang yang berpikir mereka tahu yang terbaik untuk diri sendiri. Tapi, faktanya sering kali mereka terjatuh karena keputusannya. Kenapa? Karena memang nggak mau mendengar pendapat orang lain yang peduli sama mereka.
- Setiap orang punya sudut pandang berbeda, nggak bisa disalahkan juga kalau kamu berpendapat seperti itu. Tapi, satu hal yang perlu kamu tahu adalah penerbit memang harus memikirkan pasar pembaca.
- Penulis itu nggak butuh menghasilkan puluhan judul novel untuk menyandang sebutan penulis. Mereka tidak terbatas media atau apapun untuk menuangkan imajinasinya. Sementara, novelis harus menghasilkan minimal satu novel untuk disebut seperti itu (novelis).
- Ambisi yang bikin kamu kehilangan ketulusan dalam menulis. Mereka yang tidak tulus (dalam meulis) akan menimbulkan begitu banyak celah pada tulisannya.
- Jadikan mimpi sebagai penulis itu TUJUAN HIDUP BUKAN AMBISI.
- Jadilah penulis yang bisa diterima semua lapisan bukan beberapa golongan.

“Suatu hari nanti, gue bisa meraih mimpi gue jadi keren dengan menulis. Hanya perlu usaha dan kesabaran. Gue bukan kalah dari mereka, hanya masih memerlukan sedikit lagi waktu berusaha meraihnya. Bukankah yang memulai dari titik terbawah akan lebih bertahan lama ketika meraih sebuah kesuksesan dan yang instan juga akan jatuh semudah mereka meraihnya."
Komentar
Posting Komentar