Hari Jum'at kemarin (6/12), saya berkesempatan untuk menonton theater secara langsung. Hal itu, berawal dari ajakan teman. Berhubung saya juga ingin sekali merasakan
feel-nya menonton theater secara langsung, alhasil saya langsung mengiyakan ajakannya.
Theater yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang ini berjudul "Domba-Domba Revolusi" karya: B. Soelarto yang dibawakan oleh Theater Cahaya dari Jakarta. Theater Domba-Domba Revolusi memiliki sinopsis tentang penghianatan, cinta kasih, dan perjuangan. Dengan mengambil kisah dimasa perjuangan yang dipadukan dengan situasi keseharian masa kini. Cerita ini ingin menceritakan dimana situasi sama yakni "Dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat, perjuangan bangsa, namun sesungguhnya kepentingan pribadi di atas segalanya."
Dalam tulisan saya kali ini, bukan untuk memberi masukan apalagi mengkritik karena bukan ranah saya. Terlebih saya hanya penikmat. Saya murni berbagi kisah pengalaman.
 |
| Tiket berupa stiker |
Setelah membayar harga tiket (Rp. 15.000,-) nanti diberi tiket dan kertas yang berisi penjelasan sinopsis, konsep, dan pemain serta pekerja yang tergabung dalam theater. Setelah itu kita akan masuk ke ruang theater. Di dalam ruangan suasana remang-remang, lampu hanya menyorot ke arah panggung. Sebelum acara dimulai, seseorang maju (mungkin penanggung jawab atau pembimbing - saya minta maaf karena saya juga kurang yakin) maju untuk memberikan penjelasan singkat tentang theater yang akan ditampilkan. Selesai berbicara, tiba-tiba lampu dimatikan dan acara dimulai.
 |
| Dekorasi panggung Theater |
Sepanjang pertunjukkan acara saya begitu menikmatinya. Mereka (para pemain) begitu menjiwai dan apik dalam memerankan tokoh yang dibawakan, hingga ketika mereka melucu saya bisa tertawa dan ketika mereka bersedih saya ikut sedih. Yang membuat saya kagum selain aktingnya adalah mereka dituntut percaya diri dan perfeksionis karena tidak ada istilah "CUT" dalam dunia theater.
Saya sendiri tidak bisa membayangkan berapa lama para pemain menghafal seluruh naskah yang dibawakan sedangkan durasi pertunjukkan 2 jam.
Pengalaman malam itu sungguh sangat berharga dan unik, dimana untuk pertama kalinya saya melihat orang berakting langsung di depan mata ternyata berbeda dengan kita menonton di depan TV, meski sama-sama sedang berakting.
Namun, ada perasaan miris yang terganjal dalam hati, yakni sepinya penonton. Saya kurang tahu apa yang melatarbelakanginya, apakah cuaca (karena kebetulan malam itu sedang hujan) atau hal lain.
Saya hanya berharap seni theater maupun kesenian lain tetap dan bisa lebih berkembang lagi. Selain itu, semoga seni budaya Indonesia mendapat perhatian lebih dari pemerintah.
Dan,
big applause buat para seniman yang sudah berjuang mempertahankan kesenian di Indonesia. Terima kasih.
Komentar
Posting Komentar