Pada awal tahun 2019 kemarin, saya memiliki resolusi yakni bisa membaca minimal 1 buku setiap bulannya. Dan, akhirnya resolusi itu bisa saya wujudkan.
Januari
Di bulan Januari, saya membaca sebuah buku terjemahan dari Korea Selatan yang berjudul "Seri Sastra Korea Abad ke-20". Buku ini di tulis oleh Choi Myung Hee dan Yi Sang. Buku ini saya pinjam dari Perpustakaan Wilayah (Perwil) Jateng. Buku ini berisi dua cerita yang semuanya menceritakan kehidupan masa lampau di Korea Selatan.
Sayangnya bukunya terlanjur saya kembalikan sebelum saya sempat saya buat reviewnya dan ketika saya ingin pinjam lagi ternyata bukunya nggak ada (mungkin dipinjam). Tetapi, yang bisa saya ingat, di dalam buku ini mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan yang tentunya menarik untuk dibaca.
Februari
Di bulan Februari, ada Animal Farm (mean: peternakan) yang ditulis oleh George Orwell dan diterjemahkan oleh Prof. Bakdi Soemanto.
Cerita singkat mengenai sang penulis, George Orwell yang mempunyai nama asli Eric Arthur Blair lahir pada tahun 1903 di India. Orwell dan keluarganya pindah ke Inggris pada tahun 1907. Animal Farm yang terbit di tahun 1945 dan Nineteen Eighteen-Four ditahun 1949 membuat namanya tenar di seluruh dunia, George Orwell meninggal di London pada usia 47 tahun tepatnya di bulan Januari 1950.
Animal Farm merupakan novel alegori politik yang ditulis Orwell pada masa Perang Dunia II sebagai satire atas totaliterisme Uni Soviet. Novel yang memiliki 140 halaman ini bercerita tentang hewan-hewan yang memberontak karena tidak diperlakukan baik oleh sang pemilik. Pemberontakan ini dimulai oleh si babi tua yang bjaksana bernama Snowball berorasi di depan para binatang, ia memiliki visi sebuah pemberontakan terhadap manusia dan kelak binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri.
Tak lama kemudian dipimpin Snowball, pemberontakan itupun terjadi dan binatang mengambil alih peternakan. Setelah visinya berhasil didapat, babi lain bernama Napoleon mengkhianati temannya. Ia memfitnah dan mengusir Snowball dari peternakan.
Ditangan Napoleon, demokrasi yang digaungkan berubah menjadi tiran, dimana pemimpin selalu benar. Para binatang dipaksa bekerja dan menuruti semua perintah Napoleon.
Dari novel ini, bisa kita ambil pelajaran jika "jangan terlalu terbuai dengan kekuasaan yang kita miliki, karena semua itu bersifat sementara".
Maret
Pada bulan Maret, saya membaca novel dari salah satu penulis favorit saya yakni Jodi Picoult yang berjudul "Small Great Things". Sebenarnya saya sudah pernah menulis tentang novel ini dengan judul Quote buku Jodi Picoult "Small Great Things" . Small Great Things merupakan sebuah novel yang bercerita tentang rasisme khususnya di Amerika. Jodi Picoult merupakan salah satu penulis yang sering menulis kisah-kisah tentang kehidupan.
Novel yang memiliki 588 halaman ini memang cukup tebal, namun sang penulis menggambarkan dengan jelas dan terperinci mengenai kasus rasisme dan nilai kehidupan bagi siapa saja yang membacanya.
Dalam bukunya, Jodi mengutarakan jika rasisme lebih dari sekedar diskriminasi berdasarkan warna kulit, rasisme juga mengenai mereka yang memiliki kekuasaan institusional. Sama halnya dengan bagaimana rasisme menciptakan kerugian-kerugian berupa kesulitan bagi orang-orang kulit berwarna untuk mencapai kesuksesan, rasisme juga memberi keuntungan-keuntungan bagi orang-orang kulit putih yang membuat kesuksesan mereka lebih mudah diraih.
Menurut saya, semua manusia pasti memiliki sifat rasisme, tinggal bagaimana kita menghilangkannya. Ingat "Apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai" maka taburlah hal-hal kebaikan niscaya kalian akan mendapatkan hal-hal yang baik pula.
April
Di bulan April ini saya membaca 2 buku sekaligus (karena tipis).
Buku yang pertama (di bulan April) ada novel karya penulis muda bernama Ayra yang berjudul "#The Somplak Life-naskah gue masih jomblo, gue juga". Sama halnya dengan Small Great Things, novel ini juga pernah saya muat di blog ini dengan judul
Quote buku "THE SOMPLAK LIFE - naskah gue masih jomblo, gue juga" . Saya tertarik untik membeli novel ini karena kisah dalam novel ini mirip dengan saya dimana si cewek pemeran utama merupakan seorang K-Popers dan bercita-cita sebagai seorang penulis. Penggunaan bahasa gaul yang disukai anak muda dan jumlah halaman yang hanya mencapai 183 halaman, membuatnya tidak bosan untuk dibaca.
Pelajaran yang menarik yang bisa diambil dari buku ini yakni "pertahankan cita-citamu dan yakinlah suatu hari nanti cita-cita itu akan terwujud jika kita sungguh-sungguh untuk meraihnya."
Yang kedua ada novel legendaris karya Antoine de Saint-Exupery berjudul "Le Petit Prince" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti "Pangeran Cilik".
Sejarang singkat tentang sang penulis
Antoine de Saint-Exupery memiliki nama lengkap Antoine Marie Roger de Saint-Exupery lahir di Lyon, Perancis, pada tanggal 29 Juni 1900. Novel Pangeran Cilik di tulis dalam masa pengasingannya di tahun 1943.
Novel Pangeran Cilik merupakan buku klasik anak-anak yang memiliki pesona tak lekang oleh waktu dan salah satu novel yang paling banyak disadur ke dalam bahasa asing yakni sebanyak 230 bahasa. Selain dalam bentuk novel, Pangeran Cilik juga pernah dibuat film di tahun 2015 dengan judul The Little Prince.
Novel ini sendiri bercerita tentang seorang Pangeran Cilik yang tinggal di sebuah Asteroid yang bernama B-612 yang ingin mencari teman. Ia lalu mempunyai setangkai mawar yang tumbuh di planetnya namun, ia merasa mawar itu lama kelamaan suka memerintah. Sang Pangeran lantas melarikan diri, dalam persinggahannya ia bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter seperti orang yang haus akan kekuasaan, haus akan pujian, dan haus akan kekayaan.
Novel dan film dari Pangeran Cilik mengajarkan banyak hal, menjadi dewasa memang hal yang pasti akan terjadi tetapi bagaimana kita akan menyikapi kedewasaan kita menjadi seorang yang lebih baik.
Mei
Di bulan ke lima ini saya membaca novel terjemahan berjudul The Knock-Off karya Lucy Sykes dan Jo Piazza. Novel ini direkomendasikan oleh Onni yang juga sangat gemar membaca. Bukunya sudah saya kembalikan sebelum sempat menulis review. Akan tetapi, saya mengingat sedikit cerita tentang novel ini. The Knock Off berlatar belakang di sebuah redaksi majalah bernama Glossy.
Eve Morton, Karyawan yang masih muda sekaligus mantan asisten kepala redaksi Imogen Tote berambisi untuk melengserkan atasannya dan ingin mengubah Glossy menjadi majalah online. Namun, Imogen Tote yang sudah bekerja selama puluhan tahun menentang hal itu. Berbagai cara Eve lakukan untuk mewujudkan keinginannya, meskipun hal itu harus dengan cara yang tidak halal.
Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi yang bercita-cita bekerja di redaksi majalah karena banyak pelajaran yang bisa diambil dari novel ini.
"Teknologi memang mempermudah kehidupan manusia, akan tetapi kita jangan sampai terbuai dan tenggelam dalam teknologi."
Juni
Di bulan ini ada novel paling fenomenal karya dari Ernest Hemingway berjudul "The Old Man and The Sea" yang terbit di tahun 1952. Novel ini membuat Ernest mendapatkan Pulitzer Prize di tahun 1952 dan di tahun 1954 ia mendapatkan Nobel Prize dalam bidang sastra.
Novel ini berkisah tentang seorang nelayan tua berpengalaman bernama Santiago. Namun dalam kurun waktu 84 hari ia tidak berhasil menangkap seekor ikan pun. Di masyarakat, ia disebut sebaga salao yakni bentuk terburuk dari ketidakberuntungan. Karena hal itu, Manolin, bocah yang sering membantunya dilarang oleh keluarganya untuk membantu Santiago.
Pada hari ke-85, Santiago pergi berlayar sendirian ke Gulf Stream yang terletak di Samudra Atlantik yang terkenal dengan arus derasnya. Santiago akhirnya berhasil menangkap ikan marlin berukuran sangat besar saking besarnya bukan ia yang menarik ikannya namun justru ikan marlin itu yang menarik kapal Santiago. Hal ini berlangsung selama berhri-hari, Santiago tidak mempedulikan rasa lapar dan lelah yang mulai menggelayutinya. Santiago tetap berusaha membawa ikan marlin itu pulang bagaimanapun caranya dan mebayangkan bisa menjual ikan marlin besar itu ke pasar dengan harga mahal.
Komentar
Posting Komentar