Pada blog sebelumnya saya mengupload part pertama dari buku yang saya baca di tahun 2019. Dan, sekarang part 2 dari buku yang saya baca di tahun 2019.
Juli
Di bulan ketujuh ini saya membaca novel bergenre thriller karya Agatha Christie yang berjudul "Cat Among the Pigeons" atau dalam bahasa Indonesia berarti Kucing di Tengah Burung Dara. Sebenarnya ini bertolak belakang dengan genre yang saya sukai
(life story dan real story) dan saya kurang minat dengan genre ini. Pas baca pun bulu kuduk merinding semua, karena selalu terbayang setiap kejadian pembunuhannya. Tetapi, entah kenapa di bulan in pengin banget baca genre ini. Buku ini sendiri saya pinjam dari teman.
Ukuran buku Agatha Christie tidak seperti ukuran novel pada umumnya yang sebesar 20 cm, novel Agatha hanya berukuran 18 cm dengan jumlah halaman 377 halaman.
Cat Among the Pigeons memiliki sinopsis:
Suatu malam di sebuah asrama sekolah Meadowbank, disaat semua penghuni asrama sedang terlelap tidur, dua guru menyelidi lampu yang menyorot misterius dari Paviliun Olahraga. Saat di datangi, diantara peralatan olahraga mereka menemukan mayat guru olahraga dengan peluru menembus jantungnya.
Sekolah itu semakin kacau balau ketika "sang pembunuh" menyerang lagi dan pembunuhan kedua terjadi. Sayangnya, seorang murid perempuan bernama Julia Upjohn tahu terlalu banyak. Dan, Julia menyadari tanpa bantuan Hercule Poirot, dia akan menjadi korban berikutnya.
Setelah membaca novel ini, benar-benar tidak terduga siapa sang "Kucing" sebenarnya, karena di luar ekspektasi. Sangat menegangkan ketika membaca buku ini tapi menarik. Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi para
booklovers penyuka genre thriller.
Agustus
Selanjutnya di bulan yang bertepatan dengan kemerdekaan Indonesia ini saya membaca sebuah buku yang lagi-lagi bukan genre utama saya yakni novel remaja karya Flazia yang berjudul "1/6" atau dibaca seper-enam.
Pengambilan judul itu karena hanya dengan 1/6 detik waktu yang Arin butuhkan untuk membuat Kai tertarik seumur hidup sejak pertama kali mereka bertemu.
Di novel ini tokoh utamanya bernama Samantha Arin, seorang mahasiswi kedokteran. Dan, Kai Takahashi, aktor, vokalis, sekaligus gitaris band Jepang "Mr. Sky".
Waktu itu Arin dan Kai bertemu di rumah sakit bertepatan dengan kakek Kai meninggal, Arin berusaha untuk menghiburnya namun Kai justru marah.
Setelah itu, semakin hari mereka semakin dekat hingga akhirnya keduanya menjalin suatu hubungan yang lebih serius. Tentu kisah cinta mereka tidak berjalan dengan mulus karena fans Mr. Sky marah ketika tahu idolanya punya kekasih, namun, tak butuh lama hubungan keduanya kembali membaik.
Sebenarnya takdir yang menentukan keduanya sudah dimulai sejak Arin berada di bangku sekolah, dimana dulu Arin merupakan pelaku iseng yang sering menelfon Kai hanya karena ingin mendengar suaranya, suara yang sangat ia sukai.
September
Di bulan ini saya membaca novel karya Jostein Gaarden berjudul "Dunia Anna", sebuah nvovel filsafat tentang semesta. Jostein Gaarden adalah penulis novel filsafat dari novel fiksi terlaris di dunia pada tahun 1995 yakni Dunia Sophie.
Ciri khas dari karya Jostein adalah memilki perpaduan yang indah antara dongeng dan kedalaman perenungan sehingga karyanya dapat dikmati siapa saja.
Novel yang berjumlah 244 halaman ini bercerita tentang Bumi 2082, Nova sangat terkejut saat tiba-tiba di terminal
online-nya muncul surat dari nenek buyutnya, Anna. Surat yang ditulis 70 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 12.12.12. Tepat saat nenek buyutnya berusia 16 tahun seperti usia Nova saat ini.
Sungguh misterius, bagaimana mungkin 70 tahun yang lalu nenek buyutnya sudah tahu bahwa kelak cicitnya bernama Nova? Dan darimana nenek buyutnya tahu tentang keresahan-keresahan Nova tentang bumi yang sudah tidak seindah dulu.
Novel ini sangat saya rekomendasikan untuk kalian yang memiliki minat dalam filsafat dan memiliki kecintaan pada alam.
Oktober
Buku selanjutnya ada novel terjemahan dari Jepang yang berjudul "Botchan" karya dari Natsume Soseki. Sejarah singkat sang penilis, Soseki lahir di Tokyo pada tahun 1867. Setelah lulus dari Tokyo Imperial University, jurusan sastra Inggris, ia menjadi guru di daerah pedalaman Pulau Shikoku. Di tahun 1900, ia dikirim ke Inggris dengan beasiswa penelitian dari pemerintah dan menetap disana hingga tahun 1903.Di tahun 1905, ia menerbitkan karya fiksi pertamanya yang berjudul
Wagahai wa neko de aru yang diikuti novel
Botchan. Soseki meninggal dunia di tahun 1916.
Botchan bercerita tentang pemberontakan seorang guru muda terhadap "sistem" di sebuah sekolah desa. Sifat Botchan yang terus terang dan tidak mau berpura-pura sering kali membuat ia mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya.
Novel ini memiliki 217 halaman merupakan novel yang sangat populer di kalangan tua maupun muda dan mungkin novel klasik yang paling banyak dibaca di Jepang Modern karena jalan cerita yang disampaikan begitu humoris.
November
Beranjak bulan berikutnya, saya membaca terjemahan tetangaan dari Jepang yakni Korea Selatan, berjudul "The Calligrapher's Daughter" karya penulis Eugenia Kim.
Eugenia Kim adalah putri seorang imigran Korea yang datang ke Amerika tidak lama setelah Perang Pasifik.
Novel ini bercerita pada abad ke-20 di Korea, Najin Han, putri seorang kaligrafer, merindukan hak untuk menentukan pilihan atas nasib sendiri. Sadar putrinya seorang yang cerdas dan keras kepala, sang ibu membebaskan Najin untuk mencari jati dirinya. Namun, sang ayah sangat keras dan teguh memegang tradisi. Terlebih ada ancama dari Jepang yang sedanv berusaha mengontrol pemerintahan negeri Gingseng.
Namun, ketika ayahnya ingin menikahkan Najin dengan pria bangsawan, ibunya justru menentang dan menyuruh Najim melayani di istana raja sebagai pendamping putri muda.
Tak berapa lama, kaisar Korea meninggal terbunuh. Budaya monarki yang berabad-abad dipelihara pun akhirnya berakhir. Najin kemudian memutuskan memulai perjalanan hidupnya sendiri dan melanjutkan pendidikan. Dalam perjalanannya, ia menemukan kisah cintanya.
Novel ini cukup tebal yakni 594 halaman, namun ceritanya lengkap mengulik sejarah-sejarah Korea pada masa lalu.
Desember
Di akhir tahun saya membaca buku berjudul "To Live" karya Yu Hua. Novel ini terjemahan dari negri Tirai Bambu, China yang masih tetanggaan dengan dua novel sebelumnya. Novel ini merupakan karya kontroversial yang sempat dilarang beredar di China.
Yu Hua lahir di China pada tahun 1960. Dia menyelesaikan sekolah menengah pada masa Revolusi Kebudayaan dan bekerja sebagai tukang gigi selama 5 tahun sebelum mulai menulis di tahun 1983.
To Live (red: Hidup) bercerita tentang seorang laki-laki bernama Fugui yang dulunya adalah seorang tuan tanah kini dia harus hidup melarat karena menghabiskan waktu dengan main judi dan ranjang pelacur. Dia berusaha bertahan hidup di tengah kekejaman perang saudara, absurditas Revolusi Kebudayaan, hingga bencana kelaparan yang melanda Chuna akibat kekeliruan kebijakan Mao. Kisah tragis kehidupan seorang Fugui merangkum kengerian perjalanan sejarah China di tengah ingar bingar revolusi komunis.
Yu Hui berusaha menyuguhkan kata-kata yang sederhana namun bergemuruh dan menggugah. Novel ini sudah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa, sudah di filmkan, dan meraih berbagai penghargaan sastra Internasional. Novel ini juga diakui sebagai salah satu buku yang paling berpengaruh di China.
Komentar
Posting Komentar