by Melika
Hari demi hari dilalui David sambil terus berdoa agar
dirinya dapat diterima bekerja di perusahaan “Q Company” karena itu adalah
impiannya dari dulu. Namun, 6 hari sejak test dilangsungkan David belum juga
menerima kabar. Hampir saja dia menyerah akan harapannya bisa bekerja di perusahaan
impiannya namun ternyata dewi fortuna masih berpihak padanya tepat 1 minggu
setelah test David menerima SMS jika dirinya diterima di “Q Company” dan pada
hari Senin dirinya sudah dapat bekerja di sana. David melihat berulangkali isi
SMS untuk memastikan bahwa dirinya benar diterima bekerja di sana, dia pun
menampar pipinya berulang kali untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi dan
ternyata semua itu bukan mimpi. Di tengah kebahagiannya tiba-tiba pikiran David
teringat pada wanita yang mengobrol dengannya waktu itu, dia berharap jika
wanita itu juga diterima sama seperti dirinya.
Hari Senin yang ditunggu akhirnya tiba juga dan
David sangat antusias untuk menyambut hari pertamanya masuk kerja. Sesampainya
di tempat kerja, dia bersama dua orang lainnya yang diterima mengikuti
pelatihan awal sebelum benar-benar terjun ke dunia kerja. Dia pun senang karena
impiannya begitu cepat terealisasi, akan tetapi, dia juga sedikit kecewa karena
keinginan lainnya agar wanita yang bersamanya juga diterima tidak terealisasi.
Di dalam hatinya dia berharap suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan wanita
itu lagi dan bertanya “siapa namanya?”.
Tak terasa hampir 10 bulan David bekerja sebagai
IT staff di perusahaan “Q Company” dan hari ini ia dipercaya untuk mewakili
perusahaan menghadiri seminar karena di undangan tertulis yang
menghadiri seminar diharuskan karyawan baru dan berbakat. Ia mempersiapkan diri
sematang mungkin supaya nanti dia bisa menyampaikan apa isi seminar pada waktu
presentasi perusahaan jika diminta. Sebelum masuk ke dalam ruangan seminar, dia
mengenali sosok yang selalu saja muncul dalam pikirannya. David langsung
menghampirinya untuk memastikan dugaannya benar atau salah.
“permisi..” sapanya dengan pelan dan sopan
“ya..” jawabnya sambil menoleh kearah sumber
suara dan betapa terkejutnya ketika melihat seseorang yang baru saja
memanggilnya. “Ooooo...” sambungnya
“hai.. kita bertemu lagi.. David...” ucapnya
sambil mengulurkan tangan tanda ingin memperkenalkan diri
“Melati..” balasnya “anda mewakili perusahaan mana..??”
“Q Company.. anda..??”
“Q Company..?? jadi anda ketrima..?? wahh..
selamat ya..”
“terima kasih..”
“saya mewakili perusahaan E Company..”
“gimana kalau kita gak usah pakai bahasa yang
terlalu sopan... lagipula kita khan satu angkatan..”
“ok..” ucap Melati mengiyakan permintaan David.
Ditengah keasyikan
mereka mengobrol.. tiba-tiba Pembawa acara menyuarakan microphone tanda akan
dimulainya acara. Mereka berdua lalu kembali ke tempat duduk yang sudah
ditentukan berdasarkan perusahaan masing-masing. Waktu istirahat tiba, David
dan Melati mengambil beberapa makanan dan duduk bersebelahan. Sambil terus
berbicara keduanya semakin dekat satu sama lain, mereka pun tidak lupa meminta
no HP. Seminar hari ini selesai pukul lima sore dan sebelum pulang, David
dengan sopan mengantarkan Melati sampai di mobilnya.
“seperti dejavu..” ucap David pelan
menginat peristiwa beberapa waktu yang lalu
“apa..??” tanya Melati yang tidak
begitu mendengar ucapan David
“aaa... bukan apa-apa.. hanya saja
ini seperti dejavu... kamu ingat khan pas kita pertama kali ketemu.. waktu itu
aku juga mengantarkanmu sampai mobil.. persis seperti hari ini..”
“aaaahhh... iya.. iya.. aku ingat.. dan gak nyangka kita dipertemukan
lagi hari ini..”
“mungkin ini yang dinamakan
TAKDIR..???” kata David memulai perkataan manis khas pria yang ingin merayu
seorang wanita
“ck..”
balas Melati sambil tersenyum manis karena tahu kemana arah pembicaraannya
“baiklah aku tahu... aku pulang dulu... bye..” lanjutnya yang langsung masuk ke
dalam mobil dan pergi sambil melambaikan tangan dan dibalas oleh David sambil
tidak lupa memberikan senyum terbaiknya. Malam harinya di pikiran
David dipenuhi dengan wajah Melati, dia pun mengambil HP dan mulai mencari no
HP yang tadi siang sudah ia simpan. Dia langsung memencet call
pada layar HP nya dan tak berselang lama terdengar suara dari seberang
ponselnya.
“Hallo..?” kata Melati begitu
mengangkat telfon dari David
“Hai.. ini aku David..”
“iya.. ada apa, Vid..??”
“enggak ada apa-apa.. kamu
sibuk..??”
“enggak terlalu.. hanya membuat
laporan tentang seminar tadi yang harus aku presentasikan di rapat besuk..”
“ehmm... kalo gitu kamu sibuk..
sorry kalau gitu aku ganggu ya..”
“enggak.. enggak gangu kog..”
bantah Melati yang sebenarnya dirinya juga seneng di telfon sama David dan
tidak rela telfonnya di putus begitu saja.
“kamu gak diminta membuat
presentasi ya..??” tanya Melati untuk membuat bahan obrolan
“enggak.. ehmm.. sebenernya gak
tahu juga karena kemarin aku hanya diminta untuk datang...” balasnya sambil
memperlihatkan senyum terbaiknya meskipun sebenarnya Melati tidak melihat
senyuman itu. Tidak terasa obrolan mereka sudah hampir lewat jam tengah malam, mereka pun saling mengucapkan 'selamat malam' sebelum menutup telfonnya masing dan beranjak untuk tidur.
*Bersambung...
Komentar
Posting Komentar