By Melika
Setelah
pertemuan yang kedua kalinya waktu
itu.. hubungan keduanya semakin dekat dan setiap malam mereka sering saling
sapa lewat telfon entah itu David atau Melati yang akan menelfon terlebih
dahulu. Mereka berdua menceritakan hal-hal yang terjadi pada hari itu dan kalau
saja tidak ada yang special biasanya mereka mulai bercerita tentang hal-hal
menarik yang terjadi di masa lampau. Di akhir pekan ketika libur mereka
terkadang jalan berdua. Sampai pada suatu hari ketika pulang kerja, Melati
tidak mengarahkan mobilnya kembali ke rumah melainkan dia mengemudikan mobilnya
ke tempat kerja David. Sesampainya di parkiran mobil dia tidak langsung menelfon
David dan memberitahu jika dirinya ada di parkiran tetapi dia justru menunggu
kedatangannya di dalam mobil. Melati terus saja melihat kearah pintu kantor
David agar dirinya tidak melewatkan David waktu keluar. 15 menit... 30 menit..
sampai satu jam.. Melati menunggu dan akhirnya orang yang ditunggu-tunggu muncul juga dari arah pintu. Begitu melihat
David keluar ia langsung keluar dari mobil dan melambaikan tangannya untuk
memberitahu jika dirinya ada di sana sedang menunggunya. Sadar akan kedatangan
Melati, David langsung berlari kearahnya dengan perasaan senang sekaligus heran
melihatnya karena ini adalah pertama kalinya Melati datang ke kantornya untuk
mengunjungi dirinya.
“Melati..?? ada apa..??” tanyanya
penuh dengan muka keingintahuan
“ehmmm... kamu pasti lapar khan..
gimana kalau kita ngobrol sambil makan.. aku traktir..” ucapnya sambil lalu dan
Davidpun mengikuti dari belakang kemana Melati pergi.. Setelah berjalan
beberapa saat Melati akhirnya masuk di sebuah restoran yang tak jauh dari
tempat kerja David.
“baiklah.. sekarang katakan.. ada
apa..?? kamu pasti ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan khan sama aku.. sampai
kamu jauh-jauh datang kemari..” kata David begitu mereka selesai memesan
makanan
“ehmm... bagaimana aku cara
ngomongnya ya..” kata Melati gugup dan bingung
“kenapa..?? apa ada masalah
serius... bicaralah.. jangan buat aku penasaran begini..”
“ok..” ucap Melati sambil mengatur
nafas dan duduknya agar terlihat lebih nyaman “Vid, apa kamu sudah punya
pacar..??” sambung Melati memulai percakapan seriusnya
“apa..?? pacar..?? kenapa..??”
tanya David yang kebingungan dengan pertanyaan Melati dan mulai menerka-nerka
kemana arah percakapan mereka selanjutnya “kenapa Melati bertanya seperti itu sama
aku...?? atau jangan-jangan dia... ahh.. gak mungkin.. masa iya.. jadi dia
juga..” batin David sambil senyum-senyum sendiri memikirkannya
“Vid..??” kata Melati membangunkan
lamunan David “bisakah kamu hanya jawab sudah atau belum..???”
“belum..” jawab David yang akhirnya
memilih untuk jujur dengan pertanyaan yang diajukan oleh Melati
“achhhh.. syukurlah..”
“kenapa..?? kenapa bersyukur...
kamu pasti mau meledekku khan kalau aku belum punya pacar..” terka David
“enggak.. siapa yang ngeledek..
bawaannya negatif thinking melulu
kamu...” jawab Melati.. Percakapan mereka untuk sesaat terhenti karena
kedatangan pramuniaga yang membawa makanan yang mereka pesan.. “ehmm.. Vid,
kalau begitu maukah kamu jadi pacarku..” sambung Melati sambil suara yang
sedikit pelan dan tubuh yang dicondongkan kearah David
“apa..??” teriak David yang tidak
percaya dengan ucapan Melati
“Ya..!! aku bicara pelan-pelan
supaya tidak ada yang mendengar.. kenapa kamu malah teriak-teriak... ini bukan
beneran tapi palsu..”
“apa..?? palsu..??”
“ehmm.. palsu.. kenapa..?? apa kamu
pikir itu ucapan yang serius..??”
“enggak.. aku gak berpikir
apa-apa..” kata David berbohong karena pada kenyataannya dirinya sangat kecewa dengan
pernyataan Melati mengenai “pacar palsu”. Sebenarnya David sempat merasa senang ketika Melati mengucapkan
kata-kata seperti itu jadi itu berarti dia memiliki perasaan yang sama seperti
dirinya tetapi sepertinya David sudah mengharapkan yang lebih dari seorang
Melati. “apa maksudmu dengan pacar palsu..??”
“ini sebenarnya aku mau minta
tolong sama kamu..!! kamu mau khan jadi pacar palsuku hanya untuk satu hari saja..
kumohon..!!” pinta Melati
“jangankan satu hari selamanya saja
aku rela menjadi pacar palsumu asalkan kamu selalu disisiku karena AKU
MENCINTAIMU..” batin David
“lagi-lagi ngalamun.. apa yang
sedang kamu pikirin sich.. kamu mau gak..??”
“kenapa..?? kenapa kamu memintaku
menjadi pacar palsumu..??”
“alasannya akan aku beri tahu
nanti.. kamu mau atau enggak..??” kata Melati lagi dengan wajah memohon
“ehmmm.. baiklah..” jawab David
lesu
“Ok.. kalau begitu besuk minggu jam
10 siang kita ketemuan di tempat biasa.. dan kamu harus berpakaian seperti hari
ini formal.. ok..??” tanya Melati bahagia
“Ok..” jawab David yang tidak bisa
menolak apapun yang diucapkan oleh wanita yang ada dihadapannya.. Setelah puas
dengan jawaban dari David, ia langsung mengambil sendok memulai makan makanan
yang sudah mulai dingin itu lalu diikuti oleh David. Ditengah-tengah menyantap
makanan Melati mulai bercerita mengenai kesehariannya dengan gembira seperti
yang biasa mereka bicarakan ketika di telfon. Akan tetapi, respon David hari
ini tidak seperti biasanya yang ikut senang, dia justru menunjukkan muka datar
dengan respon yang ala kadarnya, namun kelihatannya Melati tidak menyadari
perubahan sikap yang ditunjukkan oleh David dan dia terus saja bercerita hingga
selesai makan. Begitu selesai, David mengantarkan Melati sampai di mobilnya dan
menunggu sampai mobil yang dikendarai Melati hilang dari pandangan sebelum
menuju ke mobilnya untuk kembali ke rumah.
*Bersambung...
Komentar
Posting Komentar